Bekerja sambil sekolah

“Minggu lalu, kemana aja, aku tidak lihat kamu ikut ujian analok” – tanyaku ke Arif, teman karibku. Dia adalah mahasiswa semester 3 program studi tata kota. Matanya memerah lengkap dengan kantong mata, habis lembur dugaku. “Minggu lalu aku tidak bisa ikut ujian, harus survei proyek pemetaan di Pekanbaru” – jawabnya santai. Tetapi ya itulah Arif, semenjak semester 2 sudah wara-wiri dari satu pulau ke pulau yang lain di Indonesia. Dia adalah seorang drafter dan juga surveyor untuk proyek-proyek tata ruang. Tergantung siapa yang membayarnya, dia harus ‘lompat ke sana – kemari, tak tentu arah’ terutama di bulan Juni hingga Desember. Bulan dimana proyek konsultan dimulai.

Dia tidak sendiri, banyak pula senior-senior yang duduk di semester atas juga berprofesi serupa, drafter merangkap surveyor. Mereka bekerja freelance tidak bergantung pada satu konsultan. Sebuah pekerjaan non-formal penyambung hidup mahasiswa. Jenis pekerjaan yang memang sangat jarang diumumkan lowongannya baik di koran maupun di internet. Biasanya dari jejaring para alumni, mahasiswa senior dan juniornya terkadang juga mendapatkan cipratan rejeki. Arif selalu menjadi langganan, dia mendapatkan beberapa pekerjaan dari senior kami. Itulah caranya mendapatkan gawean proyek. Setiap lowongan disebarkan dari mulut ke mulut.

Kali ini dia membawa gulungan kertas besar, peta rupa bumi dari Bakosurtanal. “Mau kamu apakan itu gulungan, banyak banget?” – Tanyaku. “Biasa, digitasi peta masbro” – jawabnya. Ya itulah tugas seorang drafter, mendigitasi lembar-demi-lembar peta untuk dijadikan peta garis menggunakan AutoCAD. Sebelumnya dia harus scan kertas-kertas besar peta kemudian dimasukkan ke AutoCAD, setelahnya dia akan asik sendiri dengan mousenya. Untuk bayaran, tidak ada standardnya. Bisa saja dibayar perpeta yaitu Rp. 50.000,- atau bisa juga dibayar per paket pekerjaan yaitu sekitar Rp. 10.000.000,- untuk satu paket proyek. Tidak sedikit, tetapi juga harus investasi waktu yang panjang. Kalau dia pegang lebih dari 1 proyek, tinggal kalikan saja berapa yang diterima. Tetapi biasanya tidak bisa ambil terlalu banyak, sekitar 3-5 paket itu sudah maksimal.

Dibalik kerja kerasnya, ada alasan yang kuat. Di dalam obrolan santai kami, dia bercerita panjang x lebar x tinggi. Ada alasan finansial yang selama ini tidak disadari. Bapaknya yang berprofesi sebagai seorang guru SD harus mengalokasikan sebagian besar gajinya untuk membiayai kakaknya membangun usaha. Keterbatasan finansial dari keluarga inilah yang menjadi alasan kenapa dia harus mengambil banyak gawean. Berbeda dengan rekan-rekan yang juga berprofesi serupa, hanya untuk nambah uang jajan. Arif berbeda, uang proyek ya memang untuk hidup, membayar uang kost hingga membeli beras untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya. Dia memasak sendiri di kosannya.

Dikala teman-temannya sibuk dengan counter strike, games popular tahun 2005-nan, dia mendigitasi peta. Karena jenis pekerjaannya adalah freelance, tidak ada kontrak dengan konsultan, maka tidak jarang juga bayarannya terlambat. Dari ceritanya, Arif pernah bekerja untuk proyek di Nusa Tenggara Timur. Pekerjaan 5 bulan, dia hanya digaji 2 bulan. Masing-masing Rp. 2.000.000,-. Praktik curang seperti ini bukanlah rahasia umum di pekerjaan informal atau tanpa status jelas. Dia tidak sendiri, ada juga rekan kami yang begitu. Hanya dibayar Rp. 100.000,- untuk 1 pekerjaan membuat usulan teknis, proposal sebelum proyek benar-benar dilaksanakan.

Keterbatasan finansial

Kuliah di sekolah teknik tidaklah murah dan tidak mudah. Arif harus meluangkan tidak sedikit rupiah untuk membeli kertas atau iuran guna membiayai tugas kelompok. Memang SPP di sekolah negeri tidaklah semahal di swasta, tetapi biaya di luar itu tetap saja tidak murah bagi ukurannya. Terkadang orang tuanya menggantikan kiriman uang bulanan dengan beras bulanan. Bisa jadi bapaknya datang dari desa membawa karung beras atau dititipkan oleh salah satu tetangga yang juga sekolah di sini. Untuk mendapatkan beasiswa dari kampus tidaklah mudah. Kompetisi dan harus menyertakan surat miskin.

Namun memang benar dibalik kesusahan selalu saja ada peluang, tinggal bagaimana kreativitas kita. Dunia drafter memang sedang booming-boomingnya dari waktu itu hingga sekarang. Masih banyak orang yang berkecimpung di dunia pemetaan hingga saat ini. Bahkan dulu ada istilah anak peta dan anak laporan. Bedanya adalah anak peta mengerjakan peta-peta proyek sedangkan akan laporan adalah mereka yang spesialis mengerjakan laporan proyek. Mereka ini bisa saja para mahasiswa ataupun para profesional muda dengan skill-nya bergabung dengan konsultan untuk mengerjakan sebagian dari proyek mereka. Ada juga yang tidak memiliki skiil pemetaan dan laporan tetapi suka dolan. Biasanya mereka mendapatkan pekerjaan sebagai surveyor yang dikirim ke pulau-pulau terluar Indonesia.

Sama dengan Arif, temenku itu. Dia harus berlajar AutoCAD dan juga Esri ArcVIEW waktu itu secara otodidak. Belajar sendiri dari buku yang dia pinjam di perpustakaan. Lama banget tidak dikembalikan, dibaca dan langsung dipraktikkan di komputer. Dikala teman-temannya sudah bermain counter strike menggunakan komputer pentium 4, komputer anyar nan canggih waktu itu, dia masih di pentium 3, windows 98. Sebagai informasi saja, operating system (OS) yang berkembang di tahun 2000-an adalah Microsoft Windows XP yang sudah mengusung tampilan tiga dimensi. Punya Arif masih 98. Yang berbeda adalah para pengguna Windows XP waktu itu (teman-temannya) menggunakannya untuk games countre strike, sedangkan dia dengan Windows 98 sudah bisa mencari uang sendiri.

Yang bisa aku pelajari dari Arif adalah bagaimana dia bisa bertahan hidup di keterbatasannya. Teman-teman termasuk aku, mendapatkan komputer tinggal minta ke orang tua. Dia berbeda, harus lembur tiap malam bahkan disaat lebaran dia harus ‘terperangkap di kos-kosan mendigitasi lembar-demi-lembar peta rupa bumi. Dia melakukannya sampai lulus kuliah di semester 10 (5 tahun). Ya..pantas saja dia harus nyambi bekerja. Dan sekarang tidak tau dimana.